Studi: Pohon Perkotaan Bunia Menyimpan KarbonCEFR A2
5 Apr 2026
Diadaptasi dari Laura, Global Voices • CC BY 3.0
Foto oleh Rengan Visweswaran, Unsplash
Artikel yang terbit pada 8 Maret 2026 melaporkan studi dari Oktober 2025 di kota Bunia, Provinsi Ituri, Kongo. Tim dari Universitas Bunia mendata 2.311 pohon di 21 petak seluas satu hektare. Pengukuran dibuat di tiga commune: Mbunya, Nyakasanza, dan Shari.
Peneliti memakai metode non-destruktif berdasarkan diameter batang, tinggi pohon, dan densitas kayu untuk memperkirakan biomassa di atas tanah. Hasil utama menunjukkan 1.759 ton biomassa di atas tanah dan sekitar 8.795 ton karbon tersimpan. Rata-rata satu pohon menyimpan 380 kg karbon atau sekitar 124 kg CO2.
Studi juga memperkirakan nilai karbon per pohon sekitar USD 1 sampai 4 di pasar sukarela, dan menyarankan kota menjajaki model kredit karbon perkotaan.
Kata-kata sulit
- biomassa — Jumlah materi organik pada tumbuhan.
- karbon — Unsur yang disimpan dalam jaringan pohon.
- non-destruktif — Cara pengukuran tanpa merusak pohon.
- diameter — Ukuran lebar batang pohon dari sisi ke sisi.
- densitas — Kepadatan materi per volume, misal kayu.
- kredit karbon — Sistem bayar untuk menukar unit pengurangan emisi.
- pasar sukarela — Tempat transaksi karbon yang tidak wajib.
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah menanam pohon di kota menurutmu membantu menyimpan karbon? Jelaskan singkat.
- Bagaimana menurutmu kota bisa menggunakan hasil studi ini, misalnya lewat kredit karbon?
Artikel terkait
Upaya Menyelamatkan Bilby Besar di Australia
Greater bilby adalah mamalia Australia yang kini terancam (vulnerable). Populasinya menurun karena spesies invasif, predator dan kehilangan habitat; konservasi meliputi penangkaran, area berpagar dan program reintroduksi oleh beberapa organisasi.
Musim Alergi di AS Mula Lebih Awal dan Lebih Parah
Musim alergi di seluruh AS kini mulai lebih awal, berlangsung lebih lama, dan banyak orang melaporkan gejala yang lebih parah. Suhu lebih hangat dan naiknya CO2 meningkatkan produksi serbuk sari, sementara polusi membuat gejala lebih buruk.
Masyarakat Adat Minta Perlindungan Hutan di COP30
Di COP30 di Belém, masyarakat adat dan komunitas lokal menuntut perlindungan hutan, pengakuan hak wilayah, dan akses langsung ke pembiayaan iklim. Tuntutan itu muncul setelah laporan GATC dan Earth Insight memetakan ancaman ekstraksi industri.