Selama bertahun-tahun nelayan di Danau Tana menghadapi penyebaran eceng gondok yang menghalangi perahu, merusak jaring, dan mendorong ikan menjauh dari lokasi penangkapan tradisional. Di desa setempat, usaha mencabut eceng gondok dengan tangan dianggap melelahkan dan sulit mengendalikan tumbuhannya.
Untuk mengatasi masalah itu, peneliti dan masyarakat menguji solusi biogas yang mengubah eceng gondok menjadi energi rumah tangga. Proyek dipimpin oleh seorang asisten profesor dari universitas setempat. Mereka mencampur eceng gondok dan kotoran ternak dalam reaktor biogas; melalui pencernaan tanpa oksigen (anaerob) bahan itu menghasilkan biogas—utama metana dan karbon dioksida—dan lumpur hayati yang menjadi pupuk.
Satu relawan nelayan melaporkan penggunaan gas untuk memasak dan penerangan serta peningkatan hasil di lahan setelah memakai lumpur hayati. Para ahli menilai ide ini dapat mengurangi kerusakan lingkungan dan memberi mata pencaharian, tetapi perlu dukungan kebijakan dan dana untuk diperluas.
Kata-kata sulit
- eceng gondok — tanaman air yang tumbuh cepat di danau
- biogas — gas untuk energi yang dibuat dari bahan organik
- anaerob — keadaan atau proses yang terjadi tanpa oksigen
- reaktor biogas — wadah atau alat untuk menghasilkan gas dari bahan
- lumpur hayati — sisa basah dari proses biogas yang jadi pupuk
- kotoran ternak — limbah dari hewan yang dipakai jadi bahan
- kebijakan — aturan atau keputusan yang dibuat oleh pemerintah
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah menurut Anda ide mengubah eceng gondok jadi biogas cocok diterapkan di daerah lain? Jelaskan alasan singkat.
- Sebutkan dua tantangan yang mungkin muncul jika proyek biogas ini ingin diperluas ke banyak desa.
- Bagaimana penggunaan lumpur hayati sebagai pupuk bisa mempengaruhi hasil pertanian lokal?
Artikel terkait
Pembangkit Listrik Mikro untuk Komunitas di Republik Dominika
Republik Dominika hampir mencapai elektrifikasi pedesaan, namun beberapa komunitas terpencil masih belum mendapat listrik. Pembangkit listrik tenaga air mikro yang didukung program Luz de Agua membantu menyediakan listrik lokal dan menurunkan biaya energi.
Kolera 2024: Penyebaran, Penyebab, dan Upaya Pengendalian
Kolera menyebar lewat air tercemar dan tetap menjadi ancaman karena konflik, perubahan iklim, dan sistem kesehatan yang runtuh. Pada 2024 dilaporkan 560,823 kasus dan 6,028 kematian; WHO menargetkan pengurangan lewat pencegahan dan vaksin.
Sarung Tangan Sekali Pakai Bisa Menyebabkan Perkiraan Mikroplastik Berlebih
Peneliti University of Michigan menemukan lapisan pada sarung tangan sekali pakai yang melepaskan partikel mirip mikroplastik. Partikel ini dapat mencemari peralatan pengukuran dan membuat jumlah mikroplastik terlihat lebih tinggi.