Studi terbaru dari Duke Health yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology Open Access memberikan pandangan penting mengenai keamanan obat Alzheimer, lecanemab. Obat yang telah disetujui FDA ini dirancang untuk menyingkirkan protein tertentu di otak guna memperlambat penurunan kognitif. Para peneliti memantau lebih dari 230 pasien dari tahun 2023 hingga 2025 untuk melihat efektivitas pengobatan dalam dunia nyata.
Hasil studi menunjukkan bahwa sekitar 80% pasien berhasil melanjutkan terapi setidaknya selama satu tahun, meskipun 21% pasien memilih berhenti akibat reaksi yang tidak diinginkan. Efek samping yang paling diperhatikan adalah ARIA (Amyloid Related Imaging Abnormalities), yang ditandai dengan pembengkakan atau pendarahan otak.
Beberapa poin utama terkait temuan keamanan ini meliputi:
- Sebanyak 24,3% pasien mengalami ARIA, dengan puncak kejadian sekitar minggu ke-10 dan minggu ke-25.
- Pasien yang memiliki dua salinan gen APOE ε4 menghadapi risiko ARIA empat kali lebih tinggi.
- Sekitar 31% pasien mengalami efek samping serius, seperti reaksi infus, jatuh, atau stroke.
- Meskipun terjadi ARIA, perubahan skor tes kognitif pasien pada bulan ke-12 tidak terpengaruh.
Saat ini, tes standar belum mampu memprediksi munculnya ARIA secara pasti. Oleh karena itu, Duke Health sedang menguji alat kecerdasan buatan untuk mendeteksi perubahan otak lebih dini. Walaupun lecanemab tidak menyembuhkan penyakit, memperlambat perkembangannya membantu pasien menjaga kemandirian mereka lebih lama.
Kata-kata sulit
- penurunan — proses atau keadaan menjadi lebih sedikit atau rendah
- efektivitas — keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan atau hasil
- pembengkakan — kondisi bagian tubuh yang membesar karena cairan
- pendarahan — keluarnya darah dari pembuluh darah yang rusak
- mendeteksi — menemukan atau mengetahui keberadaan sesuatu yang tersembunyi
- kemandirian — keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Menurut Anda, mengapa penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan penting dalam pemantauan efek samping obat-obatan medis?
- Bagaimana efektivitas suatu obat dan efek sampingnya harus dipertimbangkan sebelum diberikan kepada pasien dengan risiko tinggi?
Artikel terkait
Studi: Ketidakamanan Energi Tingkatkan Kecemasan dan Depresi di AS
Sebuah studi oleh Michelle Graff dari Georgia Tech yang diterbitkan di JAMA Network Open menemukan ketidakamanan energi terkait gejala kecemasan dan depresi pada rumah tangga AS. Peneliti menyarankan penyaringan ketidakamanan energi oleh layanan kesehatan.
Salmonella kebal obat mencemari makanan anak di Karamoja
Studi peer-reviewed menemukan hampir setengah makanan dan air untuk anak di bawah lima tahun di Karamoja tercemar Salmonella yang kebal obat. Resistensi tinggi terhadap azithromycin dan kondisi sanitasi yang buruk memperparah malnutrisi dan diare.
Tes darah dengan piRNA prediksi kelangsungan hidup lansia
Penelitian menemukan bahwa molekul kecil bernama piRNA dalam darah dapat memprediksi kemungkinan bertahan hidup dua tahun pada orang berusia lanjut. Temuan ini berasal dari analisis sampel darah dan dipublikasikan di jurnal Aging Cell.
Obat TB yang Dihirup Bisa Sederhanakan Pengobatan
Peneliti mengembangkan pengobatan tuberkulosis yang dapat dihirup menggunakan nanopartikel berisi rifampin. Terapi ini menarget paru-paru, diuji pada tikus, dan menunjukkan kesiapan obat lebih lama di paru sehingga mungkin mengurangi frekuensi pemberian dan efek samping.