Proyek ini dipimpin oleh Simon Peter Musinguzi, dosen senior di Uganda Martyrs University, dan didukung oleh Science Granting Councils Initiative (SGCI). Tim memulai proyek tahun lalu dengan dana 125 juta Ugandan shillings dari Uganda National Council for Science and Technology di bawah SGCI. Mereka fokus pada kopi karena tanaman ini penting bagi banyak rumah tangga di Uganda.
Proses penyamakan kulit hanya memanfaatkan sekitar 20 persen dari kulit dan meninggalkan 80 persen sebagai limbah. Para peneliti mengekstrak kolagen dari limbah ini untuk membuat hidrogel yang diperkaya nutrisi seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Mereka menyebut pupuk itu "pintar" karena melepaskan nutrisi sesuai kebutuhan tanah dan juga membantu menahan kelembapan.
Uji coba di kebun kopi di Masaka menunjukkan hasil kuat. Petani Frank Matovu mengatakan pupuk lain sering perlu diaplikasikan lebih dari dua kali per musim dan untuk kopi biasanya menyemprot minimal delapan kali setahun. Para peneliti menilai daya tahan pupuk di tanah dan menargetkan produk siap pasar pada November tahun ini, serta berharap memasok beberapa negara tetangga.
Kata-kata sulit
- penyamakan — proses mengolah kulit hewan agar tahan lama
- limbah — bahan sisa dari suatu proses produksi
- kolagen — protein penting pembentuk jaringan tubuh
- hidrogel — bahan seperti gel yang menyimpan air
- memperkaya — menambahkan lebih banyak nutrisi atau zat pentingdiperkaya
- kelembapan — keadaan adanya air dalam tanah atau udara
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana penggunaan limbah kulit untuk membuat pupuk bisa mempengaruhi kehidupan petani kopi di Uganda?
- Menurutmu, apa tantangan utama jika tim ingin memasok pupuk ini ke negara tetangga?
- Jika pupuk ini menahan kelembapan tanah, apakah petani perlu mengurangi frekuensi penyemprotan? Jelaskan alasanmu.
Artikel terkait
Virtual Vet: Permainan untuk Belajar Sains dan Penalaran
Peneliti di University of Georgia merancang permainan Virtual Vet untuk membantu siswa sekolah dasar berlatih anatomi, kesehatan, dan keterampilan penalaran. Uji coba menunjukkan anak yang memainkan permainan memperoleh skor lebih tinggi dibanding metode kelas tradisional.