Para peneliti berhasil menghasilkan tulang rawan telinga elastis dari sel manusia, sebuah upaya yang telah berlangsung lebih dari tiga dekade. Pekerjaan ini melibatkan kelompok riset dari beberapa institusi termasuk laboratorium akademik dan rumah sakit di Swiss.
Mereka mengisolasi sel tulang rawan dari potongan kecil jaringan pasien dan mengembangaknnya in vitro. Dari sepotong kecil dapat diperoleh sel, tetapi telinga yang dicetak memerlukan jumlah sel yang jauh lebih banyak. Tim mengembangkan lingkungan kultur yang memasok nutrisi dan oksigen ke struktur yang dicetak, serta menguji faktor pertumbuhan untuk mendorong pembelahan sel dan mencegah perubahan menjadi fibroblas.
Sel yang diperbanyak disematkan ke dalam tinta biologis, dicetak, lalu dimatangkan untuk membentuk kolagen tipe II, elastin, dan glikosaminoglikan. Setelah pra-maturasi, konstruksi ditanamkan di bawah kulit tikus dan tetap stabil beberapa minggu, meski elastin masih belum sepenuhnya matang. Langkah berikutnya adalah studi klinis, pengujian terstruktur, dan persetujuan formal sebelum digunakan pada pasien.
Kata-kata sulit
- tulang rawan — Jaringan tubuh yang elastis, pembentuk beberapa struktur
- kultur — Proses atau lingkungan untuk menumbuhkan sel di laboratorium
- faktor pertumbuhan — Zat yang merangsang sel untuk membelah dan tumbuh
- fibroblas — Sel yang biasanya membentuk jaringan ikat dan serat
- kolagen — Protein utama pembentuk struktur dan kekuatan jaringan
- elastin — Protein yang memberi jaringan sifat elastis atau lentur
- glikosaminoglikan — Molekul karbohidrat besar pada matriks luar sel
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apa keuntungan menggunakan sel pasien sendiri untuk membuat tulang rawan telinga?
- Menurut Anda, tantangan apa yang mungkin muncul sebelum metode ini dipakai pada pasien?
- Mengapa uji klinis dan persetujuan formal penting sebelum digunakan pada manusia?
Artikel terkait
Penelitian: Aturan AI Uni Eropa Tidak Mengatur Teknologi yang Keluar
Penelitian 7amleh menemukan bahwa aturan Uni Eropa tentang kecerdasan buatan tidak mengendalikan aliran teknologi dan dana ke pemerintahan serta militer di Asia Barat dan Afrika Utara, dengan sedikit akuntabilitas atas dampak hak asasi manusia.
Seniman dan Jurnalis Australia Menentang Penggunaan AI atas Karya Mereka
Seniman, jurnalis, dan pekerja kebudayaan Aborigin di Australia meluncurkan kampanye "Stop AI Theft" dan tagar #PayUp. Mereka menuntut hukum yang memberi kontrol, kompensasi, dan transparansi atas penggunaan karya oleh alat AI generatif.
Sensor Protein Baru Membuat Aktivitas Molekuler Terlihat oleh MRI
Peneliti di UC Santa Barbara mengembangkan sensor protein yang dikodekan secara genetik untuk membuat aktivitas molekuler terlihat lewat MRI. Sistem modular ini, bernama MAPPER, berpotensi membantu studi kanker, neurodegenerasi, dan peradangan.