Peneliti di Virginia Tech mempelajari mengapa timeline media sosial menampilkan lebih banyak hal yang tidak biasa daripada kehidupan sehari-hari. Mereka mengatakan orang secara naluriah tertarik pada kejutan. Penelitian ini memperkenalkan istilah "difusi bias kelangkaan" dan dipublikasikan di jurnal MIS Quarterly.
Temuan menunjukkan bahwa ketika orang sering melihat konten yang langka, mereka mulai berpikir konten itu umum dan cenderung membagikannya. Tim melakukan beberapa eksperimen dan membuat simulasi jaringan untuk melihat bagaimana konten itu menyebar. Akibatnya, gambaran tentang kehidupan orang lain menjadi miring.
Para peneliti menyarankan agar pengguna menyadari bahwa feed hanya menunjukkan apa yang dipilih orang untuk dibagikan, bukan kehidupan biasa setiap hari.
Kata-kata sulit
- peneliti — orang yang mempelajari sesuatu secara sistematisPara peneliti
- naluriah — respon atau rasa yang datang tanpa berpikir
- difusi bias kelangkaan — kecenderungan menyebarnya konten langka di jaringan
- simulasi — model atau percobaan buatan untuk melihat proses
- miring — tidak seimbang atau menunjukkan gambaran yang salah
- membagikan — memberi sesuatu kepada orang banyakmembagikannya
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Pernahkah kamu merasa feed media sosial tidak mencerminkan kehidupan nyata? Ceritakan singkat.
- Menurutmu, mengapa orang suka membagikan hal yang tidak biasa?
- Apa yang bisa kamu lakukan agar tidak terpengaruh oleh tampilan feed?
Artikel terkait
Warga Mile Four Bamenda Beralih ke Tenaga Surya karena Pemadaman Listrik
Pemadaman listrik panjang dan tidak menentu di Mile Four, Bamenda mendorong warga mencari solusi lokal. Mereka mengumpulkan dana untuk trafo komunitas dan banyak memasang sistem surya terdesentralisasi untuk kebutuhan rumah tangga dan layanan publik.
Remaja di Hong Kong Menggunakan Chatbot sebagai Teman Emosional
Laporan 12 Oktober 2025 menunjukkan remaja di Hong Kong memakai chatbot seperti Xingye dan Character.AI untuk dukungan emosional. Para ahli peringatkan risiko, dan beberapa pengembang mencoba membuat alat yang lebih aman.
Ilmuwan Afrika Selatan Kembangkan Biosensor untuk Deteksi Dini
Di Pertemuan Nobel Laureate Lindau, ilmuwan Jaymi Leigh January memaparkan biosensor generasi berikutnya yang memakai nanoteknologi untuk mendeteksi biomarker penyakit seperti TB, kanker, dan virus. Ia ingin alat ini menjadi portabel dan terjangkau untuk klinik lokal.