Peneliti dari Virginia Tech, dipimpin oleh Alice Jang dan Viswanath Venkatesh, meneliti mengapa feed media sosial sering menonjolkan peristiwa yang menarik dan tidak biasa. Studi ini dipublikasikan di MIS Quarterly dan memperkenalkan konsep baru yang disebut difusi bias kelangkaan.
Tim menemukan bahwa paparan berulang terhadap konten yang jarang membuat pengguna melebih-lebihkan seberapa umum konten itu, lalu mereka cenderung membagikan konten serupa. Untuk memahami perilaku ini, peneliti menjalankan enam eksperimen. Dalam salah satu uji, peserta membaca skenario fiksi tentang sebuah kota distopia yang diserang monster; peserta lebih mungkin membagikan skenario yang paling jarang mereka lihat. Para peneliti juga membangun jaringan tiruan untuk mensimulasikan ribuan pengguna dan mempelajari penyebaran konten unik.
Hasilnya menunjukkan distorsi di media sosial bukan hanya efek algoritme, melainkan juga bias manusia dan keinginan untuk variasi. Para peneliti mengusulkan agar tanggung jawab mengurangi distorsi ini pada akhirnya berada pada pengguna.
Kata-kata sulit
- difusi bias kelangkaan — penyebaran informasi langka yang merusak persepsi umum
- paparan — melihat atau terkena sesuatu berulang kali
- melebih-lebihkan — mengatakan sesuatu lebih besar atau lebih umum
- jaringan tiruan — struktur buatan yang meniru hubungan pengguna
- mensimulasikan — membuat model untuk meniru situasi nyata
- distorsi — perubahan atau penyimpangan dari keadaan asli
- tanggung jawab — kewajiban untuk bertindak atau memperbaiki sesuatu
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Pernahkah Anda melihat konten langka di media sosial yang membuat Anda berpikir itu umum? Ceritakan singkat pengalaman Anda.
- Langkah sederhana apa yang bisa dilakukan pengguna untuk mengurangi distorsi di feed media sosial mereka?
- Apakah Anda setuju bahwa pengguna lebih bertanggung jawab daripada algoritme untuk mengurangi distorsi? Jelaskan alasan singkat.
Artikel terkait
Warga Mile Four Bamenda Beralih ke Tenaga Surya karena Pemadaman Listrik
Pemadaman listrik panjang dan tidak menentu di Mile Four, Bamenda mendorong warga mencari solusi lokal. Mereka mengumpulkan dana untuk trafo komunitas dan banyak memasang sistem surya terdesentralisasi untuk kebutuhan rumah tangga dan layanan publik.
Remaja di Hong Kong Menggunakan Chatbot sebagai Teman Emosional
Laporan 12 Oktober 2025 menunjukkan remaja di Hong Kong memakai chatbot seperti Xingye dan Character.AI untuk dukungan emosional. Para ahli peringatkan risiko, dan beberapa pengembang mencoba membuat alat yang lebih aman.
Ilmuwan Afrika Selatan Kembangkan Biosensor untuk Deteksi Dini
Di Pertemuan Nobel Laureate Lindau, ilmuwan Jaymi Leigh January memaparkan biosensor generasi berikutnya yang memakai nanoteknologi untuk mendeteksi biomarker penyakit seperti TB, kanker, dan virus. Ia ingin alat ini menjadi portabel dan terjangkau untuk klinik lokal.