Peneliti menggunakan data publik 2022 dari Health Resources and Services Administration. Data mencakup lebih dari 1.300 FQHCs yang melayani 29,8 million pasien di 50 negara bagian dan Washington, DC. Sekitar satu dari 11 orang Amerika mendapat perawatan dari FQHCs.
Studi menemukan kesenjangan besar dalam skrining kanker. Skrining kolorektal sekitar 15 poin persentase lebih rendah di daerah paling kurang terlayani, skrining payudara sekitar 11 poin, dan skrining serviks sekitar 8 poin. Peneliti menyebut masalah sosial ekonomi, hambatan praktis, dan merekomendasikan tes kolorektal di rumah serta layanan telekesehatan.
Kata-kata sulit
- peneliti — orang yang bekerja untuk melakukan penelitian
- skrining — pemeriksaan untuk menemukan penyakit lebih awal
- kesenjangan — perbedaan besar antara kelompok atau tempat
- hambatan — sesuatu yang menyulitkan atau menghalangi
- telekesehatan — pelayanan kesehatan lewat telepon atau internet
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah menurut Anda tes kolorektal di rumah bisa membantu orang di daerah kurang terlayani? Mengapa?
- Apa contoh hambatan praktis yang bisa membuat orang tidak ikut skrining di daerah mereka?
- Bagaimana menurut Anda layanan telekesehatan bisa meningkatkan pemeriksaan kanker?
Artikel terkait
Nanopartikel bantu sel punca tingkatkan mitokondria
Para peneliti di Texas A&M University menggunakan nanopartikel berbentuk bunga (nanoflowers) untuk membuat sel punca menghasilkan lebih banyak mitokondria dan mentransfernya ke sel yang menua atau rusak, sehingga memulihkan energi seluler.
Sensor Rumah dan AI Pantau Perubahan Kesehatan pada Pasien ALS
Tim di University of Missouri menguji sistem yang menggabungkan sensor rumah dan kecerdasan buatan untuk melacak perubahan fungsi sehari-hari pada pasien ALS. Tujuannya mendeteksi masalah lebih awal dan membantu tindakan klinis cepat.
Studi: COVID-19 dan Flu Tinggalkan Perubahan Jangka Panjang
Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa kasus ringan COVID-19 atau influenza dapat menyebabkan perubahan berkepanjangan di paru-paru. Hanya pada COVID-19 ditemukan peradangan otak dan gangguan pada jalur serotonin dan dopamin.