Teknologi kecerdasan buatan kini membuat foto, video, dan audio palsu yang disebut deepfake. Hal ini dapat menipu orang dan merusak kepercayaan pada berita. Para peneliti di ETH Zurich mengembangkan chip sensor yang menandatangani rekaman secara kriptografis segera setelah sinyal direkam.
Tanda tangan ini menunjukkan asal rekaman dan apakah berkas telah diubah kemudian. Tanda itu dapat disimpan di buku besar yang dapat diakses publik, misalnya blockchain. Platform media sosial bisa memeriksa tanda saat unggahan, atau jurnalis dan peneliti dapat memverifikasi sendiri dengan alat sederhana.
Kata-kata sulit
- kecerdasan buatan — teknologi komputer yang meniru kecerdasan manusia
- deepfake — gambar, video, atau audio palsu yang realistis
- menandatangani — membuat tanda resmi pada rekaman atau dokumen
- kriptografis — berkaitan dengan cara menyandi data supaya aman
- buku besar — catatan umum yang bisa diakses banyak orang
- memverifikasi — memeriksa kebenaran atau keaslian sesuatu
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apa masalah yang bisa ditimbulkan oleh deepfake menurut teks?
- Bagaimana chip sensor membantu melawan deepfake?
- Apakah menurut Anda platform media sosial harus memeriksa tanda ini? Mengapa?
Artikel terkait
Cerita Queer di Nigeria: Risiko dan Ketiadaan Data
Kisah queer di Nigeria menghadapi risiko hukum dan sosial, dan banyak karya tidak masuk arsip digital. Akibatnya, sistem kecerdasan buatan belajar dari data yang tidak lengkap; dokumentasi dan akses diperlukan untuk melindungi narasi ini.
Pendapatan Kreator Digital Afrika Masih Rendah Meski Sektor Tumbuh
Laporan Africa Creator Economy Report 2.0, dipublikasikan di Lagos pada Januari 2026, menunjukkan sektor kreatif digital bernilai miliaran dolar. Namun banyak kreator di Afrika mendapat penghasilan kecil dan menghadapi masalah pembayaran dan AI.
Aplikasi 'Are You Dead Yet?' dan kesepian kaum muda di China
Aplikasi ponsel bernama “Are You Dead Yet?” tiba-tiba populer di Apple App Store China pada Januari 2026. Aplikasi ini meminta kontak darurat dan check-in rutin, dan menonjolkan kecemasan sosial di kalangan anak muda yang tinggal sendiri.