Teknologi kecerdasan buatan kini membuat foto, video, dan audio palsu yang disebut deepfake. Hal ini dapat menipu orang dan merusak kepercayaan pada berita. Para peneliti di ETH Zurich mengembangkan chip sensor yang menandatangani rekaman secara kriptografis segera setelah sinyal direkam.
Tanda tangan ini menunjukkan asal rekaman dan apakah berkas telah diubah kemudian. Tanda itu dapat disimpan di buku besar yang dapat diakses publik, misalnya blockchain. Platform media sosial bisa memeriksa tanda saat unggahan, atau jurnalis dan peneliti dapat memverifikasi sendiri dengan alat sederhana.
Kata-kata sulit
- kecerdasan buatan — teknologi komputer yang meniru kecerdasan manusia
- deepfake — gambar, video, atau audio palsu yang realistis
- menandatangani — membuat tanda resmi pada rekaman atau dokumen
- kriptografis — berkaitan dengan cara menyandi data supaya aman
- buku besar — catatan umum yang bisa diakses banyak orang
- memverifikasi — memeriksa kebenaran atau keaslian sesuatu
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apa masalah yang bisa ditimbulkan oleh deepfake menurut teks?
- Bagaimana chip sensor membantu melawan deepfake?
- Apakah menurut Anda platform media sosial harus memeriksa tanda ini? Mengapa?
Artikel terkait
Haris Pardede: dari jurnalis koran ke YouTuber sepak bola
Haris Kristanto Pardede beralih dari jurnalis olahraga di koran ke pembuat video daring. Namanya makin dikenal setelah meliput Timnas di Piala Asia 2023, dan ia kini membawakan kanal YouTube Bung Harpa dengan liputan langsung dari lapangan.
AI untuk memperbaiki data penyebab kematian
Para peneliti meluncurkan proyek CODA, alat AI tiga tahun yang didanai Gates Foundation untuk memperbaiki data penyebab kematian di negara berpenghasilan rendah. Alat ini dipakai di komunitas dan fasilitas, dan memberi tingkat keyakinan pada rekomendasi.