Paleontolog dari University of Chicago menggunakan pemindaian CT rinci dan simulasi untuk menguji bagaimana leluhur mamalia dapat mendengar. Mereka mempelajari Thrinaxodon liorhinus, seekor cynodont berumur 250 juta tahun. Tim memindai sebuah spesimen terkenal dari Museum of Paleontology di University of California, Berkeley di PaleoCT Laboratory milik UChicago.
Pemindaian itu menghasilkan model 3D yang memberi ukuran presisi pada tengkorak dan rahang. Para peneliti lalu memakai perangkat lunak Strand7 untuk menjalankan analisis elemen hingga pada model tersebut. Hasil simulasi menunjukkan sebuah membran di lekukan rahang dapat bertindak seperti gendang telinga dan menangkap suara di udara. Temuan ini mengubah waktu kemunculan pendengaran modern dan dipublikasikan di PNAS.
Kata-kata sulit
- paleontolog — Ilmuwan yang mempelajari fosil dan organisme purba
- pemindaian — Proses membuat gambar detail bagian dalam objekpemindaian CT
- simulasi — Percobaan atau model komputer untuk uji
- membran — Lapisan tipis jaringan yang menutup atau membatasi
- tengkorak — Kerangka kepala yang melindungi otak dan mata
- rahang — Bagian kepala tempat gigi duduk dan bergerak
- gendang telinga — Membran kecil yang bergetar oleh suara udara
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana perasaanmu membaca bahwa rahang purba mungkin bisa mendengar?
- Apakah kamu pernah melihat fosil di museum? Ceritakan singkat pengalamanmu.
- Mengapa menurutmu penting mengetahui kapan kemampuan pendengaran muncul?
Artikel terkait
Tagatose: gula langka yang dibuat dari glukosa oleh bakteri
Peneliti Tufts mengembangkan cara membuat tagatose, pemanis mirip gula, dengan merekayasa bakteri Escherichia coli. Metode ini menggunakan enzim baru dari jamur lendir dan menghasilkan tagatose lebih efisien, serta aman menurut otoritas kesehatan.
Kurangnya Bukti Ilmiah Hambat Kebijakan Afrika
Lise Korsten dari African Academy of Sciences mengatakan sedikitnya bukti ilmiah yang dihasilkan di Afrika menghambat pembuatan kebijakan dan membuat benua itu lemah dalam perdagangan. AAS membangun jaringan dan program diplomasi sains untuk mengatasi masalah ini.