Pada Januari 2022 gunung berapi bawah laut Hunga Tonga–Hunga Ha’apai meletus dan membentuk plume vulkanik yang luar biasa besar. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa plume ini tampaknya membantu menghilangkan sebagian metana yang dilepaskan saat letusan.
Para ilmuwan memakai pengukuran satelit dan menemukan konsentrasi formaldehida yang sangat tinggi. Mereka melacak awan itu selama 10 hari saat bergerak menuju Amerika Selatan. Karena formaldehida hanya bertahan beberapa jam di atmosfer, perjalanan panjang ini menunjukkan bahwa metana dihancurkan secara terus-menerus dalam plume, kata Maarten van Herpen, penulis pertama studi.
Penjelasan yang diusulkan mirip dengan penelitian sebelumnya: air laut dan abu yang tersapu ke stratosfer bereaksi di bawah sinar matahari dan memproduksi atom klorin yang sangat reaktif. Klorin itu kemudian bereaksi dengan metana dan membantu memecahnya. Karena metana berperan besar dalam pemanasan global dalam jangka pendek, temuan ini penting untuk strategi pengurangan emisi.
Kata-kata sulit
- plume vulkanik — kolom besar abu dan gas dari letusan
- metana — gas rumah kaca yang menyumbang pemanasan jangka pendek
- formaldehida — zat kimia yang terbentuk di udara setelah reaksi
- stratosfer — lapisan atmosfer di atas troposfer, lebih tinggi
- klorin — atom atau unsur kimia yang reaktif
- menghancurkan — menguraikan atau memecah sesuatu menjadi bagian kecildihancurkan
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana hasil penelitian ini bisa memengaruhi strategi pengurangan emisi di masa depan?
- Menurut Anda, apakah peristiwa alam seperti letusan ini dapat membantu mengurangi pemanasan global secara signifikan? Mengapa?
- Apa manfaat mengukur formaldehida dan melacak awan vulkanik dengan satelit dalam studi ini?
Artikel terkait
Kecerdasan Buatan Mengubah Lahan di Brasil
Penelitian menunjukkan kecerdasan buatan, otomatisasi, dan alat digital mengubah penggunaan lahan di Brasil. Model pertanian terdigitalisasi menggusur komunitas dan menggantikan pengetahuan tradisional; peneliti menuntut tata kelola AI yang transparan dan perlindungan wilayah sosial.
Peneliti Uganda Olah Batang Pisang Jadi Tekstil
Peneliti di Busitema University mengolah batang pisang menjadi serat untuk tekstil, sambungan rambut, dan pembalut. Proyek menghadapi masalah teknis, hukum, dan pasar tapi menunjukkan potensi, termasuk varietas Kayinja yang menjanjikan.