Pada Januari 2022 letusan Hunga Tonga–Hunga Ha’apai terjadi di bawah laut. Letusan itu sangat kuat dan menghasilkan plume atau awan vulkanik yang naik sampai jauh di udara.
Ilmuwan menggunakan satelit untuk memantau awan. Mereka menemukan kadar formaldehida yang sangat tinggi dan mengikuti awan itu selama 10 hari saat bergerak ke arah Amerika Selatan. Karena formaldehida cepat rusak di udara, pengamatan ini menunjukkan metana dihancurkan terus-menerus dalam plume.
Para peneliti menduga bahwa air laut dan abu yang masuk ke stratosfer bereaksi di bawah sinar matahari dan menghasilkan klorin yang membantu memecah metana. Temuan ini memberi ide baru tentang cara memperlambat pemanasan bumi.
Kata-kata sulit
- letusan — pelepasan energi dari gunung berapi
- satelit — alat di luar angkasa yang mengamati bumi
- formaldehida — zat kimia organik yang ada di udara
- metana — gas rumah kaca yang menyerap panas
- stratosfer — lapisan udara tinggi di atas troposfer
- klorin — unsur kimia yang bisa bereaksi dengan gas
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana menurutmu satelit membantu ilmuwan saat memantau awan vulkanik?
- Apakah kamu pikir ide untuk memperlambat pemanasan bumi penting? Mengapa?
- Pernahkah kamu melihat gambar awan vulkanik? Ceritakan singkat.
Artikel terkait
Kebijakan Lingkungan dan Ketidaksetaraan Roma di Bulgaria
Elana Resnick, seorang antropolog, menulis bahwa kebijakan lingkungan di Eropa kadang memperdalam ketidaksetaraan rasial. Ia meneliti komunitas Roma di Bulgaria dan menemukan hubungan antara pekerjaan sampah dan stigma sosial.
Aktivis Kongo Melawan "Kutukan Sumber Daya" Secara Damai
François Kaserake Kamate, aktivis dari timur Republik Demokratik Kongo, menentang eksploitasi mineral yang memicu kekerasan. Ia menyerukan solidaritas, ruang bagi aktivis muda, dan strategi non-kekerasan untuk melindungi komunitas lokal.
Perubahan Iklim Kurangi Pendapatan AS Sekitar 12%
Sebuah studi menemukan perubahan iklim telah menurunkan pendapatan Amerika Serikat sekitar 12% sampai sekarang. Peneliti menggunakan model iklim dan data suhu kabupaten digabungkan dengan data pendapatan untuk membandingkan dunia dengan dan tanpa emisi manusia.