Buku terbaru oleh antropolog Elana Resnick membahas bagaimana kebijakan lingkungan di Eropa dapat memperdalam ketidaksetaraan rasial. Resnick mengandalkan dua dekade kerja lapang di Bulgaria dan fokus pada komunitas Roma, minoritas terbesar di negara itu.
Untuk memahami efek aturan lingkungan, ia hidup dan bekerja bersama orang yang ditelitinya. Selama hampir setahun ia menjadi penyapu jalan dalam tim perempuan Romani. Pekerjaan ini menempatkan mereka pada bahaya fisik, pelecehan, dan pengawasan, tetapi juga memungkinkan ruang untuk kehidupan publik, percakapan, dan solidaritas.
Resnick mengembangkan gagasan hubungan antara sampah dan ras, yaitu bagaimana stigma terhadap orang dan pekerjaan sampah saling memperkuat. Ia memperingatkan bahwa inisiatif keberlanjutan sering bertumpu pada tenaga kerja yang tidak terlihat, terutama komunitas kulit berwarna dan perempuan. Ia menekankan perlunya mengakui sistem yang menghubungkan kebijakan lingkungan dan tatanan rasial lama.
Kata-kata sulit
- antropolog — ilmuwan yang mempelajari budaya manusia
- kebijakan lingkungan — aturan pemerintah tentang perlindungan alam
- ketidaksetaraan rasial — perbedaan perlakuan yang tidak adil karena ras
- kerja lapang — penelitian yang dilakukan langsung di lokasi
- penyapu jalan — orang yang membersihkan jalan kota
- pelecehan — perlakuan kasar atau merendahkan orang
- stigma — label negatif yang melekat pada kelompok
- keberlanjutan — prinsip penggunaan sumber daya jangka panjang
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana menurut Anda kebijakan lingkungan dapat meningkatkan ketidaksetaraan rasial?
- Langkah apa yang bisa diambil untuk menghargai tenaga kerja yang tidak terlihat dalam program keberlanjutan?
- Apakah tinggal dan bekerja bersama komunitas membantu peneliti memahami masalah sosial? Jelaskan alasan Anda.
Artikel terkait
Banjir dan Longsor di Huai Hin Lad Nai
Huai Hin Lad Nai, desa Masyarakat Adat Karen di Chiang Rai, mengalami banjir dan longsor pada September 2024. Penelitian Februari 2025 menyebut iklim dan penebangan masa lalu sebagai faktor, sementara komunitas ingin gabungkan pengetahuan adat dan sains.