Sebuah studi internasional di Malaria Journal membandingkan tes cepat Abbott-Bioline dengan tes lain dan mikroskopi. Penelitian itu dilakukan oleh Shoklo Malaria Research Unit (SMRU) antara Oktober 2024 dan Januari 2025 di perbatasan Thailand-Myanmar.
Hasil menunjukkan Abbott-Bioline hanya mengidentifikasi benar 18 persen infeksi Plasmodium falciparum dan 44 persen Plasmodium vivax. Banyak kasus positif hanya memberi garis samar. Penulis studi mengatakan alat itu "tidak sesuai tujuan" dan meminta penarikan produk dari pasar di Asia Tenggara.
Abbott Diagnostics menanggapi bahwa tinjauan perusahaan mengatakan tes itu "berfungsi sesuai tujuan". WHO meninjau laporan sejak Agustus 2024 dan mengeluarkan pemberitahuan publik pada 31 Maret 2025.
Kata-kata sulit
- malaria — Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk.
- tes — Metode untuk mengecek atau mengukur.
- diagnostik — Proses untuk mengetahui penyakit.
- peneliti — Orang yang melakukan penelitian.
- hasil — Apa yang didapat dari suatu proses.
- negatif — Menunjukkan tidak ada sesuatu.
- infeksi — Masuknya kuman ke dalam tubuh.
- fatal — Dapat menyebabkan kematian.
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Mengapa penting untuk memiliki tes yang akurat untuk penyakit?
- Apa dampak dari hasil negatif palsu bagi pasien?
- Bagaimana cara meningkatkan akurasi tes malaria?
Artikel terkait
Tes darah dengan piRNA prediksi kelangsungan hidup lansia
Penelitian menemukan bahwa molekul kecil bernama piRNA dalam darah dapat memprediksi kemungkinan bertahan hidup dua tahun pada orang berusia lanjut. Temuan ini berasal dari analisis sampel darah dan dipublikasikan di jurnal Aging Cell.
Kesehatan Mental Perinatal dan Pentingnya Dukungan
Sekitar 20% wanita mengalami depresi atau kecemasan selama kehamilan dan tahun pertama setelah melahirkan. Peneliti dan psikiater Kara Zivin berbagi pengalamannya dan menekankan kebutuhan dukungan sosial serta perhatian kebijakan kesehatan.
Transplantasi sel bantu kesehatan jantung setelah cedera sumsum tulang belakang
Para peneliti menguji transplantasi sel pada tikus untuk memperbaiki kontrol saraf atas tekanan darah dan denyut jantung setelah cedera sumsum tulang belakang. Hasil menunjukkan perbaikan saraf, namun respons hormon berlebih tetap ada.