Tim peneliti dipimpin oleh Zhi Da dari Mendoza College of Business, University of Notre Dame, dengan rekan dari Baruch College dan National Taiwan University. Makalah mereka dipublikasikan di Management Science. Untuk mengukur perhatian, tim menghitung perhatian abnormal pada tiap saham lalu merata-ratakan angka itu menjadi dua indeks pasar: ARA dan AIA.
Mereka menguji apakah indeks tersebut memprediksi return pasar dengan menjalankan regresi return pasar pada ARA dan AIA. Hasilnya menunjukkan dua pola jelas: perhatian ritel yang meningkat cenderung diikuti penurunan return minggu berikutnya, sementara perhatian institusional yang meningkat cenderung diikuti kenaikan return, terutama sebelum pengumuman penting.
Para peneliti menjelaskan bahwa investor individu sering masuk terlambat dan mendorong harga terlalu tinggi, sedangkan investor institusional sering mulai meneliti sebelum berita besar sehingga minat mereka memberi sinyal ketidakpastian dan permintaan return lebih tinggi.
Kata-kata sulit
- perhatian abnormal — minat yang lebih tinggi dari biasanya
- indeks — angka yang mewakili ukuran atau nilai pasar
- mengukur — menentukan seberapa besar sesuatu secara kuantitatif
- regresi — metode statistik untuk lihat hubungan antara variabel
- ritel — berkaitan dengan konsumen individu atau perdagangan kecil
- institusional — berkaitan dengan organisasi investasi besar atau profesional
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Bagaimana menurut Anda perilaku investor individu yang masuk terlambat bisa mempengaruhi harga saham di pasar lokal?
- Apakah indeks perhatian seperti ARA dan AIA berguna untuk investor biasa? Jelaskan alasan Anda.
- Langkah apa yang bisa dilakukan investor individu untuk mengurangi efek negatif akibat masuk terlambat?
Artikel terkait
Transisi Energi dan Pembiayaan Iklim di Asia Selatan
Asia Selatan menghadapi dampak iklim besar seperti banjir Pakistan 2022 dan pencairan gletser Nepal. Negara di kawasan ini mencari pembiayaan iklim, tetapi banyak modal kembali ke negara kaya dan muncul kekhawatiran tentang proyek dan pasar karbon.
Dana Adaptasi Iklim di Afrika Menunjukkan Hasil
Laporan GHS dan Komisi Uni Afrika menemukan bahwa pembiayaan adaptasi iklim yang ditargetkan menghasilkan hasil terukur di beberapa negara Afrika, termasuk proyek di Benin, Ethiopia, dan Namibia. Studi mencatat perbaikan infrastruktur, hasil pertanian, dan peningkatan partisipasi perempuan.
Afrika Mendesak Pembiayaan Kesehatan yang Lebih Adil
Di UNGA80, pembuat kebijakan Afrika menyerukan perubahan cara pembiayaan kesehatan. Obinna Ebirim menyoroti ketergantungan pada donor, kekurangan tenaga kesehatan, infrastruktur lemah, dan memberikan contoh Program National Health Fellows di Nigeria.