Kolase di Penjara Perempuan LimaCEFR A1
6 Mar 2026
Diadaptasi dari Adriana Hildenbrand, Global Voices • CC BY 3.0
Foto oleh steven maarten william V, Unsplash
- Ada sebuah lokakarya seni di penjara perempuan Lima.
- Lokakarya itu berlangsung di Lima pada 2024–2025 secara rutin.
- Sesi diadakan setiap minggu selama dua jam setiap kali.
- Perempuan memakai gambar untuk membuat kolase cerita mereka.
- Kolase membantu mereka bicara tanpa harus menggunakan kata.
- Beberapa peserta dipindah setelah evaluasi penjara dilakukan.
- Tatapan di penjara fokus pada seksualitas, terutama homoerotik.
- Seni memberi ruang untuk kenangan, refleksi, dan kekuatan bersama.
- Perempuan terus mencari cara menyatakan tekanan dan penindasan.
Kata-kata sulit
- lokakarya — Acara belajar untuk praktek keterampilan bersama orang lain
- kolase — gambar atau kertas ditempel jadi satu gambar baru
- evaluasi — penilaian untuk menilai kondisi atau kerja
- refleksi — proses berpikir kembali tentang pengalaman atau perbuatan
- penindasan — perlakuan tidak adil yang menyakiti atau menekan
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah kamu pernah membuat kolase?
- Kamu lebih suka membuat gambar atau menulis cerita?
- Menurutmu, seni bisa membantu orang bicara tanpa kata? Ya atau tidak.
Artikel terkait
Perjalanan Sofa9a: migrasi dari Venezuela ke Kolombia
Sofa9a (nama samaran) menceritakan migrasinya dari Venezuela ke Saravena, Arauca pada 13 Januari 2021. Cerita ini menjelaskan kesulitan kesehatan, pekerjaan, izin perlindungan, diskriminasi, dan dukungan yang mereka alami hingga kembali ke Venezuela awal 2023.
Pameran tentang Warisan Buruh Kontrak di Karibia
Antara 1834 dan 1920 banyak orang tiba di Karibia sebagai buruh kontrak, sebagian besar dari India. Pameran oleh Gabrielle Hosein dan Abigail Hadeed menampilkan foto, tumbuhan, dan karya yang mempertanyakan stereotip serta menghubungkan masa lalu dan kini.
AI dan risiko bagi komunitas LGBTQ+
Kecerdasan buatan semakin hadir, tetapi data dan desain model dapat menghasilkan bias terhadap orang LGBTQ+. Advokat meminta perlindungan lebih kuat, kerja sama dengan pengembang, dan larangan pada sistem yang mendeteksi atau mengklasifikasi gender.