Sebuah studi baru menemukan bahwa fertilitas rendah di Amerika Serikat ikut mendorong penyempitan kesenjangan upah antara pria dan wanita. Peneliti memperkirakan sekitar 8% dari penyempitan itu terkait dengan berkurangnya jumlah anak pada perempuan.
Studi ini memakai data nasional besar tentang ukuran keluarga dan pendapatan dari waktu ke waktu. Para penulis mencatat bahwa rata-rata anak per pekerja menurun sejak 1980-an, dan pendapatan perempuan naik relatif terhadap laki-laki.
Penelitian menjelaskan bahwa menjadi ibu sering membuat perempuan keluar kerja atau bekerja paruh waktu, sementara menunda atau tidak memiliki anak memberi peluang pekerjaan lebih stabil. Para peneliti menyarankan investasi pada layanan pengasuhan anak yang terjangkau dan dukungan agar ayah ikut berbagi tugas pengasuhan.
Kata-kata sulit
- fertilitas — jumlah anak yang dilahirkan oleh perempuan
- penyempitan — proses menjadi lebih kecil atau berkurang
- kesenjangan — perbedaan antara dua kelompok orangkesenjangan upah
- paruh waktu — bekerja kurang dari waktu penuh
- pengasuhan — perawatan dan pemeliharaan anak oleh keluargapengasuhan anak
- terjangkau — dapat dibeli atau diakses dengan biaya rendah
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah menurut Anda layanan pengasuhan anak yang terjangkau penting? Mengapa?
- Bagaimana menunda memiliki anak bisa mempengaruhi pekerjaan perempuan menurut teks?
- Apakah di keluarga Anda ayah ikut berbagi tugas pengasuhan? Ceritakan singkat.
Artikel terkait
Masalah Operasi Menghambat Energi Terbarukan di Republik Dominika
Republik Dominika menambah energi terbarukan namun masalah operasi jaringan menyebabkan pemborosan dan meningkatkan penggunaan bahan bakar fosil. Pemerintah menyatakan darurat dan ada pembatasan produksi yang besar pada 2025.
Kapal Penelitian Nansen Batal Survei di Perairan Sri Lanka
Kapal penelitian Norwegia Dr. Fridtjof Nansen membatalkan survei yang direncanakan di perairan Sri Lanka pada 2025 karena izin pemerintah terlambat. FAO menugaskan kapal itu ke Madagaskar dan para ilmuwan menyayangkan penundaan tersebut.