Peneliti dari University of Chicago dan ICTP membuat simulasi mekanika kuantum untuk melihat bagaimana cahaya ultraviolet (UV) mengubah kimia es. Hasil studi ini dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences.
Eksperimen pada tahun 1980-an menunjukkan es yang terkena UV beberapa menit menyerap berbeda dibanding es yang terkena berjam-jam. Simulasi menemukan bahwa berbagai cacat dalam kisi es—misalnya kekosongan, ion hidroksida, dan defek Bjerrum—berpengaruh pada penyerapan dan pemancaran cahaya. Tim sekarang bekerja sama dengan eksperimen untuk menguji prediksi mereka.
Kata-kata sulit
- simulasi — model komputer untuk meniru kejadian nyata
- mekanika kuantum — cabang fisika yang mempelajari partikel sangat kecil
- cahaya ultraviolet — cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek dari ungu
- ion hidroksida — ion bermuatan negatif yang terdiri dari oksigen dan hidrogen
- kisi es — susunan teratur molekul dalam struktur padat es
- cacat — bagian yang tidak normal pada struktur padat
- penyerapan — proses saat materi menyerap energi atau cahaya
- pemancaran — proses saat materi melepaskan energi atau cahaya
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Pernahkah kamu melihat es berubah setelah terkena sinar matahari? Ceritakan singkat.
- Mengapa menurutmu penting untuk menguji prediksi simulasi dengan eksperimen?
- Bagaimana menurutmu cacat dalam kisi es bisa memengaruhi sifat es?
Artikel terkait
Kekeringan di Barat Daya AS Mengurangi Habitat Mamalia Besar
Studi baru memakai data pelacakan jangka panjang dan menemukan kekeringan mengurangi area habitat yang sangat sesuai untuk beberapa mamalia besar. Analisis mencakup data antara 2010 dan 2022 dan dipublikasikan di Communications Earth and Environment.
Debu berlian bukan pilihan untuk mendinginkan Bumi
Penelitian dari Washington University menunjukkan debu berlian sintetik yang dibuat lewat sintesis detonasi menyerap lebih banyak panas daripada memantulkan cahaya. Para peneliti menyimpulkan material ini tidak cocok untuk stratospheric aerosol injection (SAI).