- Pandemi membuat long COVID dikenal.
- Dokter dan ilmuwan bingung.
- Peneliti melihat darah pasien long COVID.
- Mereka menemukan autoantibodi dalam darah.
- Autoantibodi menyerang otak dan saraf.
- Hal ini bisa sebabkan brain fog.
- Gejala lain termasuk pusing dan kelelahan.
- Hasil ini perlu penelitian lebih lanjut.
- Temuan ini penting bagi pengobatan nanti.
Kata-kata sulit
- autoantibodi — antibodi yang menyerang bagian tubuh sendiri
- menyerang — melukai atau merusak organ atau sel tubuh
- gejala — tanda atau rasa yang muncul saat sakit
- penelitian — kegiatan mencari fakta secara ilmiah
- brain fog — kesulitan berpikir, fokus, atau mengingat
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah kamu pernah merasa pusing atau kelelahan setelah sakit?
- Pernahkah kamu sulit fokus atau lupa setelah sakit?
- Apakah kamu akan pergi ke dokter jika sakit lama?
Artikel terkait
Platform Baru Pantau Demam Berdarah Secara Bulanan
Global Dengue Observatory adalah platform dari LSHTM yang memantau tren demam berdarah bulanan menggunakan data WHO dan proyek OpenDengue. Alat ini membantu menyoroti kenaikan, keterlambatan pelaporan, dan pola regional seperti di Amerika Latin.
Permintaan Mineral untuk Energi Bersih Menyebabkan Masalah di Wilayah Miskin
Laporan PBB memperingatkan bahwa permintaan cepat terhadap mineral seperti lithium, kobalt dan grafit menyebabkan kerusakan lingkungan, kekurangan air, dan masalah kesehatan di beberapa wilayah termiskin, sementara negara kaya mendapat manfaat ekonomi lebih besar.
Terapi Alternatif Terkait Kelangsungan Hidup Kanker Payudara
Sebuah studi menemukan penggunaan pengobatan komplementer dan alternatif (CAM) terkait dengan penurunan kelangsungan hidup pasien kanker payudara. Analisis data lebih dari 2 juta pasien menunjukkan risiko kematian lebih tinggi pada pengguna CAM saja dan pada kombinasi terapi.
Kebutuhan Psikologis Dasar Mempengaruhi Perilaku Minum Alkohol
Penelitian menunjukkan orang yang kebutuhan psikologisnya terpenuhi cenderung minum dengan lebih aman. Studi mengaitkan otonomi, kompetensi, dan koneksi dengan pilihan minum yang lebih bertanggung jawab dan risiko penyalahgunaan lebih rendah.