Mempertanyakan "Memusatkan Manusia" dalam Kecerdasan BuatanCEFR A2
16 Apr 2026
Diadaptasi dari Guest Contributor, Global Voices • CC BY 3.0
Foto oleh Steve A Johnson, Unsplash
Xonorika Kira mengkritik frasa "memusatkan manusia" dalam diskusi kecerdasan buatan. Ia mengatakan frasa itu menyamarkan pandangan sempit tentang manusia yang mengecualikan pengetahuan hewan, ekologis, leluhur, dan spiritual.
Menurutnya, pandangan sempit itu sering dibentuk oleh supremasi kulit putih, patriarki, dan ableisme. Batas antara alami dan buatan juga dipakai untuk mengasingkan orang yang dianggap "tidak alami".
Sebagai alternatif, Kira menyarankan memperluas cara berhubungan dengan kecerdasan, mengakui kesadaran dalam berbagai spesies, sistem, dan teknologi. Ia juga menyoroti perlunya dataset kecil dan model yang lebih lambat untuk komunitas.
Kata-kata sulit
- frasa — kelompok kata yang menjadi satu ungkapan
- menyamarkan — membuat sesuatu tampak berbeda atau tersembunyi
- pandangan sempit — cara melihat yang terbatas dan tidak inklusif
- supremasi kulit putih — sistem yang menempatkan kulit putih lebih tinggi
- ableisme — diskriminasi terhadap orang dengan disabilitas
- mengasingkan — membuat seseorang merasa terpisah atau tidak diterima
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Apakah kamu setuju bahwa diskusi kecerdasan harus mengenali kesadaran hewan dan sistem lain? Mengapa?
- Bagaimana menurutmu dataset kecil dan model lebih lambat bisa membantu komunitas?
- Pernahkah kamu melihat contoh yang mengecualikan pengetahuan selain manusia? Ceritakan singkat.
Artikel terkait
Kecerdasan Buatan Generatif Mengubah Pengalaman Perjalanan
Profesor bisnis menjelaskan bahwa kecerdasan buatan generatif dapat membaca suasana hati pelancong dan menyesuaikan saran perjalanan secara real time. Teknologi ini bekerja sebelum, selama, dan setelah perjalanan, namun menimbulkan kekhawatiran privasi dan etika.
Indonesia Perketat Aturan Platform Digital
Pemerintah Indonesia memperketat pengaturan platform digital dan menuntut transparansi moderasi konten. Aturan memberi wewenang menghapus konten dan memblokir platform, namun kritik mengatakan ketentuan itu masih kabur dan bisa mengganggu kebebasan berbicara.