Para peneliti menumbuhkan jaringan yang berfungsi mirip otak tanpa menggunakan bahan turunan hewan. Metode ini tidak memakai lapisan biologis yang biasanya membantu sel menempel dan tumbuh.
Kerangka baru terbuat terutama dari polietilen glikol (PEG), sebuah polimer kimia netral. Tim membentuk PEG menjadi matriks berpori sehingga sel donor dapat mengenali dan mengisi struktur itu. Pori-pori membantu oksigen dan nutrisi masuk ke seluruh bahan, sehingga sel punca mendapat makanan dan dapat matang. Model ini dipakai untuk mempelajari cedera otak, stroke, dan penyakit seperti Alzheimer. Tim juga bekerja untuk memperbesar model dan menghubungkan beberapa jaringan organ.
Kata-kata sulit
- jaringan — kumpulan sel yang membentuk bagian tubuh
- lapisan biologis — bahan tipis yang biasanya membantu sel
- polimer — molekul besar dari banyak bagian kecil
- berpori — memiliki banyak lubang kecil untuk lewat
- sel punca — unit hidup awal yang dapat berkembang menjadi berbagai jenis
- nutrisi — zat yang memberi makanan dan energi pada sel
Tips: arahkan kursor, fokus, atau ketuk kata yang disorot di dalam teks untuk melihat definisi singkat sambil membaca atau mendengarkan.
Pertanyaan diskusi
- Mengapa menurutmu peneliti ingin membuat jaringan tanpa bahan turunan hewan?
- Bagaimana pori-pori membantu sel punca menurut teks?
Artikel terkait
Tagatose: gula langka yang dibuat dari glukosa oleh bakteri
Peneliti Tufts mengembangkan cara membuat tagatose, pemanis mirip gula, dengan merekayasa bakteri Escherichia coli. Metode ini menggunakan enzim baru dari jamur lendir dan menghasilkan tagatose lebih efisien, serta aman menurut otoritas kesehatan.
Perpecahan dan Kekerasan di Kelompok Simpanse Kibale
Studi jangka panjang di Kibale, Uganda, menunjukkan satu kelompok simpanse besar terpecah dan anggota salah satu bagian kemudian menyerang serta membunuh banyak mantan anggota. Temuan ini dipublikasikan di Science dan menimbulkan pertanyaan tentang hubungan sosial simpanse.
Transplantasi sel bantu kesehatan jantung setelah cedera sumsum tulang belakang
Para peneliti menguji transplantasi sel pada tikus untuk memperbaiki kontrol saraf atas tekanan darah dan denyut jantung setelah cedera sumsum tulang belakang. Hasil menunjukkan perbaikan saraf, namun respons hormon berlebih tetap ada.